Tuesday, June 17

Ketika Orientasi Hidup, Lahir dari Alam Kapitalisme

Aku mencintai kehidupan ini. Tayangan televisi, seperti sinetron, berita, dan iklan-iklan yang ada, secara tidak langsung telah mempengaruhi cara berpikir dan bertindakku.

Dari sering menonton tivi, aku mulai memiliki pandangan tertentu tentang masa depanku. Aku suka wanita cantik, pokoknya kalau sudah gede aku harus memiliki pacar cantik, lengkap dengan dandana modis anak muda.Aku memimpikan besok memiliki pacar dengan rambut panjang terurai, dandana ala artis sinetron. Akupun menganggap, wanita adalah segalanya. Wanita seperti aktris sinetron, pasti akan membahagiakan hidupku. Dan ketika dewasa nanti aku akan menikah dan kami hidup bahagia selamanya.

Ekstrim kan, anak SD sudah berpikiran tentang cinta sampai segitunya.

Ketika itu diriku masih beranggapan begini, Bukankah itu wajar? Mas-Mas dan Mbak-Mbak yang ada disekitarku juga seperti itu, mereka pacaran, putus ganti lagi, putus ganti lagi. Sampai akhirnya menemukan pendamping hidup yang dicintainya dan akhirnya menikah. Dalam pikiran aku, hidup itu yang paling penting harus memiliki pendamping yang cantik dan itu pasti akan membahagiakanku.

Setidaknya seperti itulah pandanganku tentang kehidupan di waktu SD dulu. Dan itu masih melekat hingga SMP.

Namun kenyataanya berkata lain. Dari situ kehidupan tidak berjalan seperti yang aku bayangkan. Kehidupan ternyata lebih sulit, tidak sekedar percintaan yang hadir di dalamnya, sepert cerita sinetron. Terkadang sedih, kekurangan materi dan lain-lain melingkupi kehidupan.

Dari situ kegalauan seorang remaja muncul. Dari masalah kehidupan dirumah sampai masalah di sekolah bermunculan. Di saat itulah titik paling rendah dalam kehidupku.

                                                                             ***

Dari sebuah pengajian remajalah titik kebangkitan hidupku. Pengajian remaja itu diadakan seminggu sekali. Awalnya aku mengikuti pengajian tersebut malas-malasan, yang menjadi motivasi mengikuti pengajian hanya ingin berkumpul dengan teman-teman, selain itu gurunya juga frendly. Ehh.. karena keasik, jadi keterusan.

Hingga akhirnya, komunitas pengajian remaja hanya tersisa bebarapa saja. Dari situ kami mendapatkan meteri yang lebih intensif, yakni fokus membahas satu kitab (buku.)

Dari situlah aku lebih tahu apa itu Islam. Islam menurut pemahamanku dulu hanyam sebatas ibadah ritual semata serta nilai-nilai kebaikan. Seperti, jika orang sudah sholat, membayar zakat, tidak mengganggu tetangga dan kita tidak diganggu tetangga itu idealnya seseorang dikatakan baik. Puncaknya ketika seseorang sudah naik haji, disitulah orang tersebut dikatakan telah menjadi orang baik.

Ternyata pemahaman yang dahulu aku miliki kurang lengkap, memang semua itu diajarkan dalam Islam, tapi Islam tidak hanya mengatur tentang itu. Islam mengatur setiap aktifitas manusia, bisa dibilang Islam itu sistim kehidupan. Jadi dari mulai mengatur individu dengan dirinya sendiri, individu dengan Allah SWT, serta individu dengan orang lain, semua itu diatur di dalam Islam. Termasuk pengturan sistim pemerintaha ada didalamnya.

Dari proses yang tidak sebentar, aku semakin memahami tentang Islam. Islam adalah agama yang sempurna. Dan aku yakin dengan pasti bahwa tiada Tuhan selain Allah. Tuhan yang telah menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan ini. Dan Rosulullah SAW adalah utusaNya.

Sekarang diriku baru menyadari, bahwa diriku adalah adalah korban sistim Sekuler/Kapitalisme. Keganasan sistem ini, sampai-sampai membuat orang Islam tidak mengenal jati dirinya sebagai seorang muslim. Maka sudah semestinya seorang Muslim itu menuntut ilmu Agama. Selain itu merupakan kewajiban seorang Muslim, juga sebagai benteng yang akan melindungi kita dari pemikiran asing diluar Islam.

No comments:

Post a Comment