Monday, April 7

Catatan Akhir Kampanye 2014 di Jogja


kampanye di Jogja

Kampanye untuk memilih calon wakil rakyat, kemarin baru saja berakhir. Tepatnya pada hari Sabtu, 5 April 2014 lalu. Akhir dari kampanye itu tidak disia-siakan oleh caleg. Para Caleg dari masing-masing partai berlomba meraih dukungan dari masyarakat dengan beragam cara. Seperti di lapisan masyarakat, para simpatisan partai berusaha menjaring masyarakat sebanyak-banyaknya untuk mendukung aspirasi partai. Dengan mengerahkan masa untuk konfoi keliling kota.

Mereka melakukan konfoi di jalan-jalan dengan mengenakan artibut partai tertentu. Tidak lupa juga mereka memodifikasi setiap motor menjadi bersuara keras tidak sebagaimana mestinya. Suara itu mungkin mereka anggap dapat menarik perhatian masyarakat untuk melihat.

Memang benar, suara tersebut menarik perhatian saya untuk berkomentar buruk terhadap mereka. Bagaiman tidak? Dengan suara yang sebegitu kerasnya, ketika kita berpapasan dengan arak-arakan motor itu kuping kita menjadi budek sementara.



Selain denga arak-arakan sepeda motor, kampanye juga dilakukan di surat kabar. Seperti yang saya lihat, di salah satu koran lokal Jogja, di halaman depan Koran yang tadinya diisi dengan sebuah peristiwa aktual, kemarin banyak diisi dengan iklan Caleg. Tidak tanggung-tanggung sampai ada satu halaman  penuh dijadikan iklan caleg. Gile nggak tuh? Yang menjadi pertanyaan, ini Koran apa forum jual beli? :v

Sabtu kemarin juga menjadi ramai masyarakat Jogja, bukan Karen suara motor yang mengganggu itu, tapi ada lagi yang membuat warga jogja terganggu kenyamanannya.

Kampanye terakhir juga diwarnai dengan bentrok antara PDI P dengan masa GPK. Mengutip dari detik.com,

“Bentrokan antar kelompok ketika kampanye terjadi di Yogyakarta. Bentrokan terjadi antara masa konvoi simpatisan PDIP dengan sekelompok massa yang membawa mobil dengan simbol GPK.

Bentrokan berkali-kali terjadi, saat peserta konvoi PDIP melintas di Jl Wakhid Hasyim atau sebelah parkir Ngabean Yogyakarta, Sabtu (5/4/2014). Satu orang yang diduga dari kubu PDIP dikeroyok. Korban luka parah di bagian kepala karena dipukul dengan kayu, batu dan lainya.”

Setelah pengeroyokan dikabarkan, masa simpatisan PDI P datang menyerang, akhirnya terjadi aksi saling lempar batu antar kedua kubu.

Polisi yang dikerahkan sebelum kejadian, tidak mampu menghalau benrokan. Dengan gas air mata polisi menghalau masa yang terlibat aksi saling lempar batu.

Akibatnya, jalan sekitar bentrokan ditutup sementara, menghindari pengguna jalan terkena lemparan batu atau benda lainnya.

Kejadian serupa juga terjadi di tahun-tahun sebelumnya ketika menjelang pemilu antara simpatisan partai satu dengan simpatisan partai lain. Ah, Tanya Kenapa?

No comments:

Post a Comment