Thursday, April 24

Jalan Menuju Keimanan (Makna Kehidupan)

Makna Kehidupan

Sewaktu usia balita, saya pernah beberapa kali bertanya pada orang tua, lebih tepatnya pada Ibu saya "Dari mana asal saya?" Ibu menjawab, "Kamu dari Bapak dan Ibu"

Pertanyaan itu berlanjut, "Terus Bapak dan Ibu dari mana? dijawab lagi oleh orang tua saya, "Bapak dan ibu dari Nenek dan Kakek."

Pertanyaan saya berlanjut, "Terus... Terus..." Sampai pertanyan itu berujung pada jawaban "Kamu dan semua manusia berawal dari Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Dan Allah SWT yang menciptakan kita semua."

"Ow, gitu ya Bu..."

Begitulah percakapan saya dengan Ibu saya. Kurang lebih seperti itulah, jika banyak lebihnya, itu hanya bumbu.

Pasti pertanyaan ini juga pernah kamu tanyakan pada orang tuamu? Iya. Iya Kamu! yang membaca tulisan ini! Kalau belum pernah, paling tidak, pernah muncul dalam benak kamu, dan kamu bertanya-tanya pada diri sendiri. Pertanyaan itu wajar ditanyakan setiap orang, karena fitroh manusi memang begitu.

Awalnya kata "Ow..." yang saya ucapkan itu belum seratus persen yakni. Mungkin baru 90% yakinnya. Tapi setelah perjalanan waktu, keyakinan itu benar-benar 100% Isnya Allah.

Keyakinan yang pasti tersebut saya dapat ketika saya mengikuti pengajian intersif yang diadakan seminggu sekali selama 2 jam. Dari situlah saya "menemukan" Al Khaliq (Sang Pencipta.) Dampak dari "menemukan" Sang Pencipta dan mencari kebenaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Muhammad SAW sebagai Nabi sekaligus Rosul penyampai Kebenaran. Dan Al Qur'an sebagai kitab yang diturunkan Sang Pencipta untuk mengatur kehidupan manusia, sungguh luar biasa. Yang pasti dengan proses, berjalannya waktu, kehidupan saya berubah, ke arah yang lebih baik, Insya Allah. Segala Puji hanya untuk Allah.

Setidaknya, gambaran singkat materi yang diberikan dalam Bab pertama pada buku yang dibahas di kajian tersebut, seperti dalam video ini.

Saturday, April 19

Terpaksa Harus Menulis...

Quote Menulis


"Terpaksa dalam kebaikan lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa." — dhico velian

Sepertinya niat saja tidak cukup harus ada kerja nyata dalam menulis, meskipun niat baik seorang Muslim akan dicatat malaikat sebagai amal baik. Tulisan ini adalah salah satu hasil dari kerja nyata saya.

Setiap orang pastinya akan bergerak sesuai dengan pemikiran yang diperolehnya kemudian diyakini kebenarannya. Sebagai contoh, jika ada seseorang berpemahaman bahwa menulis itu penting, maka Ia mengusahakan untuk terus menulis. Menulis akan menjadi agenda yang tidak terlewatkan dalam kesehariannya.

Tapi jika melihat kenyataan yang ada, banyak orang yang ingin menulis tapi tidak kunjung menulis, meskipun satu paragraf atau satu kalimatpun dalam sehari. Pertanyaanya mengapa tidak menulis?

Mungkin hal tersebut terjadi karena belum benar-benara menganggap penting kegiatan menulis. Mungkin ini juga yang terjadi pada diri saya. Huahaha...

Dengan tulisan yang sedikit ini, semoga dapat menjadi awal menuju tulisan-tulisan salanjutnya yang lebih banyak dan bermanfaat pastinya.

Inti dari tulisan ini adalah buat jawaban dari pertanyaan, "Mengapa harus menulis?". Kalau tujuannya jelas, dijamin menulisnya semakin rajin. Ayo... bersama-sama membangun kebiasaan baik ini...

Salam...

#Just Writing.

Monday, April 7

Catatan Akhir Kampanye 2014 di Jogja


kampanye di Jogja

Kampanye untuk memilih calon wakil rakyat, kemarin baru saja berakhir. Tepatnya pada hari Sabtu, 5 April 2014 lalu. Akhir dari kampanye itu tidak disia-siakan oleh caleg. Para Caleg dari masing-masing partai berlomba meraih dukungan dari masyarakat dengan beragam cara. Seperti di lapisan masyarakat, para simpatisan partai berusaha menjaring masyarakat sebanyak-banyaknya untuk mendukung aspirasi partai. Dengan mengerahkan masa untuk konfoi keliling kota.

Mereka melakukan konfoi di jalan-jalan dengan mengenakan artibut partai tertentu. Tidak lupa juga mereka memodifikasi setiap motor menjadi bersuara keras tidak sebagaimana mestinya. Suara itu mungkin mereka anggap dapat menarik perhatian masyarakat untuk melihat.

Memang benar, suara tersebut menarik perhatian saya untuk berkomentar buruk terhadap mereka. Bagaiman tidak? Dengan suara yang sebegitu kerasnya, ketika kita berpapasan dengan arak-arakan motor itu kuping kita menjadi budek sementara.