Wednesday, January 22

Masih Mengkritik Kinerja Pemerintah!

Mengkritik Pemerintah
Ada dimana masalah-masalah dalam masyarakat bisa diselesaikan oleh warga masyarakat. Seperti mengatasi masalah keamanan, warga masyarakat bisa mengatasi sendiri tanpa peran pemerintah. Warga bisa membuat kelompok ronda malam atau mempekerjakan orang sebagai hansip atau satpam. Namun ada masalah-masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah dengan ketegasan, namun kenyataanya disaat itu juga pemerintah tidak tegas bergerak mengatasi masalah yang diderita rakyat. Saya contohkan seperti makin banyaknya perokok dalam Negeri terutama pada generasi mudanya. Yang masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh warga Negara tapi harus dengan peran pemerintah. Yakni dengan menutup pabriknya.

Masih beredar bebas penjualan rokok menjadi bukti ketidak tegasannya pemerintah mengatur mekanisme pasar di Negeri yang dipimpinnya. Jikalau pemerintah belum mampu menutup pabrik rokok, paling tidak dengan menerapkan solusi parsial untuk mengatasinya. Bisa dengan menaikan harga rokok menjadi 100ribu per bungkus mungkin! Masak kalah dengan Empunya Negara Kapitalis Amerika yang menjual rokok dengan harga 12 dolar per bungkus. Atau bisa mengatur agar rokok tidak dijual bebas. Tidak seperti sekarang, rokok dijual bebas, tidak ada kepeduliaan dari pemerintah untuk mengatur peredaran rokok. Siapa saja boleh membeli rokok. Meskipun masih anak-anak, merka boleh membeli, asalkan punya uang. Itu tidak bisa terlaksana tanpa adanya peran pemerintah, karena itu menjadi tugasnya pemerintah.


Tulisan ini terinspirasi dari film dokumenter yang dibuat oleh asing, mengenai banyaknya anak muda Indonesia yang merokok. Dalam film itu, pada saat meliput sebuah konfrensi tembakau yang diadakan di Jakarta tahun 2010, ada sebuah percakapan yang menggelikan. Antara pembawa acara yang menyamar menjadi tamu undangan dengan salah seorang pengusaha yang menggeluti bisnis tembakau. Dalam percakapan santai itu, pembawa acara bertanya “Apakah anda merokok?” Apa jawabannya? Sudah bisa kita tebak bahwa ia menjawab, “Saya tidak merokok.”

Ini ironis, disatu sisi pengusahannya tidak mau merusak tubuhnya dengan barang yang ia jual dan disisi lain anak muda justru menjadikan rokok sebagai gaya hidup mereka. Saya kasihan dengan anak muda yang  terpengaruh dengan gaya hidup ini, yang beranggapan jika tidak merokok tidak keren.  Seakan mereka tidak peduli dengan kesehatan dirinya sendiri, apalagi pada orang lain yang ada disekitarnya yang menjadi perokok pasif.

Selain itu masih banyak ketidaktegasan pemerintah dalam mengatasi masalah-masalah lainnya. Dan saya tidak yakin jika semua itu bisa teratasi, jika masih menggunakan sistim Demokrasi. Demokrasi sendiri lahir dari paham sekuler/Kapitalis. Kita tahu, jika pemerintah membuat aturan, aturan itu tidak lain dibuat untuk menyenangkan satu pihak saja yakni pemilik modal. Kalaupun untuk mensejahterakan rakyat itupun hanya sedikit saja.

Apakah pemerintah di Negeri ini hanya mementingkan diri mereka sendiri dengan tidak mempedulikan nasib generasi mudannya?

No comments:

Post a Comment