Wednesday, January 29

Korupsi, Demokrasi, Revolusi

Korupsi, Revolusi
Menjelang Pemilu, menjadi hal lumrah di pinggir-pinggir jalan terpasang bendera-bendera dari berbagai partai yang lolos verifikasi KPU. Menjadi wajar pula terdapat 2 bendera partai, terpasang di satu tempat yang sama, seperti di tiang listrik, atau tiang telephone. Seperti yang ada di jalan depan rumah saya, dua bendera partai berdampingan berjejer rapi.

Terbesit pertanyaan dalam benak saya, apa kenyataanya mereka akur seperti dua bendera itu yang saling berbagi tempat berkibar ditiup angin? Melihat realita yang sudah-sudah sih mereka akur, tapi hanya dalam hal berbagi uang panas, selebihnya ketika mereka tertangkap dan terbukti menjadi tersangka mereka pura-pura tidak kenal satu sama lain.

Wajah mereka menjadi terkenal beberapa waktu, menjadi sorotan media yang begitu gencar meliput perkembangan terbaru dari sebuah kasus korupsi. Satu sosok tenggelam, datang lagi sosok lain yang terlibat sebuah kasus yang sama. Mereka bak artis pendatang baru yang sebenarnya kehadirannya tidak diinginkan masyarakat. Artis-artis ini akan terus ada, seiring dengan masih diterapkannya sistim demokrasi.

Wednesday, January 22

Masih Mengkritik Kinerja Pemerintah!

Mengkritik Pemerintah
Ada dimana masalah-masalah dalam masyarakat bisa diselesaikan oleh warga masyarakat. Seperti mengatasi masalah keamanan, warga masyarakat bisa mengatasi sendiri tanpa peran pemerintah. Warga bisa membuat kelompok ronda malam atau mempekerjakan orang sebagai hansip atau satpam. Namun ada masalah-masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah dengan ketegasan, namun kenyataanya disaat itu juga pemerintah tidak tegas bergerak mengatasi masalah yang diderita rakyat. Saya contohkan seperti makin banyaknya perokok dalam Negeri terutama pada generasi mudanya. Yang masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh warga Negara tapi harus dengan peran pemerintah. Yakni dengan menutup pabriknya.

Masih beredar bebas penjualan rokok menjadi bukti ketidak tegasannya pemerintah mengatur mekanisme pasar di Negeri yang dipimpinnya. Jikalau pemerintah belum mampu menutup pabrik rokok, paling tidak dengan menerapkan solusi parsial untuk mengatasinya. Bisa dengan menaikan harga rokok menjadi 100ribu per bungkus mungkin! Masak kalah dengan Empunya Negara Kapitalis Amerika yang menjual rokok dengan harga 12 dolar per bungkus. Atau bisa mengatur agar rokok tidak dijual bebas. Tidak seperti sekarang, rokok dijual bebas, tidak ada kepeduliaan dari pemerintah untuk mengatur peredaran rokok. Siapa saja boleh membeli rokok. Meskipun masih anak-anak, merka boleh membeli, asalkan punya uang. Itu tidak bisa terlaksana tanpa adanya peran pemerintah, karena itu menjadi tugasnya pemerintah.