Thursday, November 8

Kalau Galau Udah Takdir, Napah?

remaja galau
sumber gambar:http://anwar-lahai.blogspot.com
Dalam hidup ini setiap orang pasti pernah yang mengalami yang namanya galau. Tidak menutup kemungkinan orang yang umurnya sudah terbilang puluhan tahun juga mengalaminya. Galaunya antara remaja dan orang tua sewajarnya berbeda, jika remaja menggalaukan suatu yang sepele sedangkan orang tua menggalaukan sesuatu yang tidak hanya urusan dirinya, tetapi juga anak istrinya.

Ada 3 penyebab terbesar kegalauan yang dilami anak muda, sebab-sebab itu adalah cinta (love), uang (money), dan hubungan (relationship) keluarga. Misal: diputusin pacar, uang yang dikaasih orang tua kurang, keluarganya tidak harmonis (broken home). Banyak penyebab lain yang menjadi sebab anak muda galau tetapi yang paling besar terjadi karena 3 hal tersebut.

Dalam hidup ini ada penyebab galau yang jika kita memikirkannya akan sia-sia belaka. Penyebab kegalauan tersebut berkaitan dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Al Khaliq (Sang Maha Pencipta). Sebagai contoh galau atas rupa, ajal, dan Rizki.Kesemua itu telah di tetapkan Allah SWT kepada setiap hambanya dan manusia sebagai hamba-Nya tidak mampu untuk mengubahnya.



Kegalauan seperti ini tidak akan mengubah ketetapan-Nya, sedang galau yang disebabkan oleh sebab lain dapat menjadikan kita berusaha lebih untuk dapat mendapatkannya sesuatu yang menurut kita ideal, karena sejatinya kegalauan disebabkan karena realitas yang terjadi berbeda dengan idealitas yang kita pahami.

Seseorang yang dihidupnya telah dihinggapi rasa cinta dunia akan, takut jika kematian menjemputnya. Kematian tidak dapat dimajukan atau dimundurkan, walaupun seseorang telah naik di atas benteng tertinggi sekalipun, yang menurut dirinya aman, jika ajal telah menjemput matilah seorang anak manusia tersebut.

Begitu juga dengan rizki yang telah Allah SWT tetapkan kepada semua makhluk hidup.Galau memikirkan rizki telah kita tahu juga termasuk galau yang sia-sia, mengapa ??, sebab galau seperti ini juga termasuk ketetapan Allah SWT.Tetapi kita jangan merasa sok tahu akan aktifitas Allah SWT sehingga kita merasa pasrah bahwa rizkinya hanya sebatas itu.karena itu perkara yang Ghaib.
Rossulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya rizki itu benar-benar mencari seorang hamba lebih banyak daripada apa yang dicari ajalnya.” (HR Thabrani melalui Abu Darda), dalam riwayat lain dikatakan :”Allah SWT tidak sekali-kali mencabut nyawa seseorang sebelum Dia memenuhi semua rizki yang telah ditetapkan untuknya.”
  
Ada aktifitas perbuatan yang manusia dapat memilihnya dan itu yang dimintai pertanggung jawaban. Dan setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban walaupun nilainya sekecil biji zarah.
Allah SWT berfirman:

"Dan barang-siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah, niscaya ia akan menerima pahala-nya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarah, niscaya ia akan menerima balasannya"(Q.S. Az-Zalzalah ayat 7-8).

Kelak di akherat manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar dengan tidak sehelai benang pun menempel di tubuhnya.Dan manusia tidak merasa mengkuatirkan/mencemaskan keadaanya. Jika demikian yang terjadi seberapa dahsyat kejadian kelak sehingga dalam keadaan telanjang manusia tidak cemas atau risau, yang manusia mencemaskan adalah apakah manusia tersebut akan menerima hasil perbuatannya selama di dunia dengan tangan kanan atau kiri, jika tanagn kanan berarti perbuatan manusia semasa hidup di dunia banyak amal kebaikannya sehingga Allah SWT meridhainya dan memasukannya ke dalam syurga, sedangkan orang yang menerima denagn tangan kiri berarti amal buruk yang dilakukan selama hidup di dunia lebih berat daripada amal baiknya, dan Allah SWT akan memasukannya ke dalam neraka.

Penyesalan di dunia sebesar apapun tidak sebanding dengan penyesalan di akherat. Jika hanya salah dalam memilih jurusan di bangku sekolah, tidak menang undian mobil, salah dalam memilih pacar mungkin, hehehe.. (islam mengharamka pacaran), itu tidak seberapa dengan penyesalan di akherat

Setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas dirinya. Oleh karena itu manusia harus selalu terikat dengan hukum syara', dan untuk membahas persoalan takdir jangan dikaitkan antara aktifitas Allah SWT dengan aktifitas manusai, karena aktifitas Allah SWT adalah perkara ghaib, manusia tdak mengetahuinya. Agar pembahasannya tidak melebar ke ranah yang manusia tidak mengetahuinya (Ghaib) maka yang menjadi pertanyaan, "Apakah aktifitas perbuatan dapat dikuasai manusia atau menguasai manusia?". Ada aktifitas perbuatan yang tidak dapat dikuasainya dan itu manusia tidak dimintai pertanggung jawaban tetapi ada juga yang dikuasai manusia, dan manusia dapat memilih serta dimintai pertanggung jawaban.

Yang menjadi persoalan, bukan seberapa tampan/cantik, seberapa banyak ilmu yang telah kita pelajari, seberapa kaya, seberapa tinggi jabatan/pangkat, dll. tetapi Allah SWT melihat seberapa taat hambanya akan syariat-Nya yang telah diturunkan untuk seluruh manusia.


No comments:

Post a Comment